Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru…
Daun gugur satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Umurku bertambah satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Tapi… coba aku tengok kebelakang
Ternyata aku masih banyak berhutang
Ya, berhutang pada diriku…
Karena ibadahku masih pas-pasan…
Kuraba dahiku…
Astagfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk
Kutimbang keinginanku….
Hmm… masih lebih besar duniawiku
Ya Allah….
Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Masihkah aku diberi kesempatan?
Ya Allah….
Tetes airmataku adalah tanda kelemahanku
Rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanku
Astagfirullah…
Jika Engkau ijinkan hamba bertemu tahun depan
Ijinkan hambaMU ini, mulai hari ini lebih khusyuk dalam ibadah…
Timbangan dunia dan akhirat hamba seimbang…
Sehingga hamba bisa sempurna sebagai khalifahMu…
Hamba sangat ingin melihat wajahMu di sana…
Hamba sangat ingin melihat senyumMu di sana…
Ya Allah,
Ijikanlah…..
Dedicated to people who celebrate the definite cycle on their life….
Tampilkan postingan dengan label Sahabatku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabatku. Tampilkan semua postingan
Rabu, 29 April 2009
Kamis, 14 Agustus 2008
Antara Sentuhan dan Komitmen Lelaki
Berkenalan, berjumpa, dan simpati pada sang arjuna
Dan tampaknya si dia pun suka
Kau putuskan tuk makan malam berdua dengan lilin di meja
Terus apa?
Dia bilang suka dan pegang tanganmu
Dia menatap mesra dan elus pipimu
Apakah dilarang secepat itu?
Apakah mungkin dia senekad itu?
Kenapa tidak?
Ini jamannya serba mendadak
Saat rasa suka campur hasrat meledak-ledak
Saat si lelaki bingung romantisme atau hormonnya bergejolak
Tinggal si wanita memutuskan
Haruskah secepat ini dipasrahkan kecupan
Haruskah malam ini pasrah di pelukan
Ataukah malah ingin juga bersatu dalam peraduan?
Setidaknya bagi wanita yang menghargai diri
Dan masih teringat pesan luhur sanak family
Tanyakan komitmen si lelaki
Akan dibawa kemana hubungan ini?
Bila si lelaki ingin berkomitmen ke arah nikah
Dia akan sejam ceritakan dulu keluarganya, alamatnya dan tempat kerjanya
Dan dia akan setengah jam dulu ceritakan kaulah dewinya
Seperempat jam dulu dia berpantun betapa ingin dari rahimmu lahir anak-anaknya
Bila si lelaki hanya ingin luapkan nafsu
Dari lekuk mulus putih bening tubuhmu
Diucapkan rayu lembut penuh bumbu
Tapi di akhir kalimat pasti dia ucapkan kata mari kita jalani saja dulu
Karena tanpa komitmen dari hati
Jangan harap kau miliki seutuhnya seorang lelaki
Walau tubuh dan jiwamu telah kau beri
Hanya terdengar: jalani dulu melulu sebagai kata kunci
Maka sebelum dia menyentuh lebih jauh
Nilai dan tanyakan komitmen si lelaki dulu
Lupakan romantisme rindu
Karena kebanyakan sanak family kita masih pemalu
Dan tampaknya si dia pun suka
Kau putuskan tuk makan malam berdua dengan lilin di meja
Terus apa?
Dia bilang suka dan pegang tanganmu
Dia menatap mesra dan elus pipimu
Apakah dilarang secepat itu?
Apakah mungkin dia senekad itu?
Kenapa tidak?
Ini jamannya serba mendadak
Saat rasa suka campur hasrat meledak-ledak
Saat si lelaki bingung romantisme atau hormonnya bergejolak
Tinggal si wanita memutuskan
Haruskah secepat ini dipasrahkan kecupan
Haruskah malam ini pasrah di pelukan
Ataukah malah ingin juga bersatu dalam peraduan?
Setidaknya bagi wanita yang menghargai diri
Dan masih teringat pesan luhur sanak family
Tanyakan komitmen si lelaki
Akan dibawa kemana hubungan ini?
Bila si lelaki ingin berkomitmen ke arah nikah
Dia akan sejam ceritakan dulu keluarganya, alamatnya dan tempat kerjanya
Dan dia akan setengah jam dulu ceritakan kaulah dewinya
Seperempat jam dulu dia berpantun betapa ingin dari rahimmu lahir anak-anaknya
Bila si lelaki hanya ingin luapkan nafsu
Dari lekuk mulus putih bening tubuhmu
Diucapkan rayu lembut penuh bumbu
Tapi di akhir kalimat pasti dia ucapkan kata mari kita jalani saja dulu
Karena tanpa komitmen dari hati
Jangan harap kau miliki seutuhnya seorang lelaki
Walau tubuh dan jiwamu telah kau beri
Hanya terdengar: jalani dulu melulu sebagai kata kunci
Maka sebelum dia menyentuh lebih jauh
Nilai dan tanyakan komitmen si lelaki dulu
Lupakan romantisme rindu
Karena kebanyakan sanak family kita masih pemalu
Langganan:
Postingan (Atom)
Menyempurnakan cinta
Dengan semua penderitaannya, adakah sesuatu yang lebih menyedihkan dari cinta? Dengan semua sukacitanya, adakah sesuatu yang lebih sempu...
-
Lahir dari rahim ibu 26 tahun silam, kini aku sudah menjadi orang dewasa. Tapi kedewasaanku tidaklah sedewasa mereka yang sudah lebih dewasa...
-
Hari hari lewat, pelan tapi pasti Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru Karena aku akan membuka lembaran baru Untuk sisa jatah um...
-
Hari demi hari berlalu sudah. Waktu demi waktu lewat begitu saja. Usia semakin tua, dan umurpun semakin berkurang. Tapi apa yang sudah aku l...