About me

Foto saya

Kamu (anak anakku) adalah alasan mengapa aku ada, dan hanya kepada-Mu (Allah) aku berserah diri.

Selasa, 27 Oktober 2015



PERSPEKTIF GENERASI MUDA
TERHADAP KEHIDUPAN MASA KINI


Makalah

disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Pengantar Sosiologi
pada Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia


Oleh
Gia Asfiatulloh
NPM.
15.1.0.13.0.045
Sarip Hidayat
NPM.
15.1.0.13.0.046
Ase
NPM.
15.1.0.13.0.029
Yopi Sefudin
NPM.
15.1.0.23.0.018
Eko Sejati
NPM.
15.1.0.13.0.030



SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
BANDUNG
2015



KATA PENGANTAR


Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Puji syukur kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan innayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang “Perspektif Tentang Generasi Muda Terhadap Nilai-Nilai Kehidupan Masa Kini” sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah ilmiah ini telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dalam proses penyusunannya penulis mendapat kemudahan. Untuk itu, penulis dalam hal ini ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan makalah ini, khususnya Dosen Pembina mata kuliah Pengantar Sosiologi yaitu Ibu Nani Susmayati,Dra.,MS yang senantiasa memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis.
Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam penyajian makalah ini, baik dari segi penyusunan kalimat ataupun dari segi tata bahasa. Untuk itu, saran dan kritik dari semua pihak akan menjadi bahan masukan yang bermanfaat dalam memperbaiki ataupun dalam pengembangan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah tentang “Perspektif Tentang Generasi Muda Terhadap Nilai-Nilai Kehidupan Masa Kini” ini dapat memberikan manfaat serta inspirasi terhadap pembaca.

Bandung,     Oktober 2015

Penulis
 



DAFTAR ISI


Kata Pengantar ...............................................................................................
i
Daftar Isi ........................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................
A.    LATAR BELAKANG ......................................................................
B.     RUMUSAN MASALAH .................................................................
C.     TUJUAN PENULISAN MAKALAH .............................................
D.    MANFAAT PENULISAN MAKALAH .........................................
1
2
2
2
3
BAB II PEMBAHASAN ..............................................................................
A.    TINJAUAN PUSTAKA....................................................................
1.      Pengertia Generasi Muda.............................................................
2.      Masalah pada Generasi Muda......................................................
3.      Peranan Keluarga, Sekolah, Masyarakat dan Lingkungan terhadap Perkembangan Generasi Muda ....................................
4.      Peranan Generasi Muda terhadap Kehidupan Masyarakat ........
5.      Perspektif Generasi Muda terhadap Kehidupan Masa Kini ........
4
4
4
6

8
11
13
B.     ANALISIS ........................................................................................
14
BAB III PENUTUP ......................................................................................
A.    KESIMPULAN ................................................................................
17
17
B.     SARAN ............................................................................................
18
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................
19



BAB I
PENDAHULUAN

1.      LATAR BELAKANG
Peran generasi muda sangat penting, apalagi dizaman era globalisasi sekarang ini, dalam kehidupan masyarakat yang dinamis dan terus berkembang. Salah satu langkah dalam mewujud keinginan bersama masyarakat yang merupakan terobosan-terobosan dalam rangka mencapai cita-cita perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia untuk mecerdaskan kehidupan ber-Bangsa dan ber-Negara serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah dengan melalui generasi muda. Dalam ilmu sosiologi yang mempelajari tentang perilaku kehidupan masyarakat, Negara merupakan wadah dari semua aktivitas yang dilakukan oleh warganya (masyarakat) yang ada di dalamnya. Generasi muda, yang juga menjadi masyarakat dari suatu Negara merupakan generasi penerus dalam mewujudkan cita-cita normatif dari sebuah Negara, dan merupakan sektor yang sangat potensial.
Seiring dengan berkembangnya pertumbuhan  kehidupan masyarakat yang  mutakhir, yaitu semakin terintegrasinya unit-unit terpisah dan lokalis dalam sistem global yang kompleks, modernisasi kerap terdengar oleh manusia dalam perkembangan sistem perekonomian di tanah air. Perkembangan globalisasi merupakan bagian integral dari perkembangan sistem formasi ekonomi dan politik, akan tetapi cenderung banyak mengarah pada sistem perekonomian yang kapitalistik. Perkembangan tersebut mengambil bentuk akselerasi yang begitu cepat. Faktor yang utama adalah perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi serta sosial, sehingga scoop semua aktivitas tersebut kini meluas kesetiap pelosok dunia.
Pengaruh globalisasi masa kini harus disiasati dan disikapi dengan bijak oleh setiap komponen bangsa, mulai dari para stakeholder hingga masyarakat luas agar mampu menghadapi tantangan, hambatan, ancaman dan gangguan yang akan terjadi akibat dari globalisasi modernisasi masa kini. Dalam bingkai kebangsaan, hendaknya globalisasi tidak menjadi pemicu lahirnya disintegrasi bangsa. Terutama dalam mindset generasi muda Indonesia, karena masa depan sebuah bangsa terletak pada pundak generasi mudanya. Adalah sangat penting bagi generasi muda dalam menyikapi arus globalisasi dengan arif dan bijaksana, sehingga mampu mengatasi masalah-masalah sosial dimasa yang akan datang guna menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2.      RUMUSAN MASALAH
Berangkat dari latar belakang di atas, makalah ini akan medeksripsikan beberapa hal yang akan diangkat menjadi pokok bahasan, beberapa diantaranya sebagai berikut.
a.       Apa yang dimaksud generasi muda?;
b.      Apa masalah yang ada pada generasi muda?;
c.       Peranan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan terhadap perkembangan generasi muda;
d.      Bagaimana peranan generasi muda terhadap masyarakat?;
e.       Perspektif generasi muda terhadap kehidupan masa kini?;
3.      TUJUAN PENULISAN MAKALAH
Dari uraian rumusan masalah di atas, tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui beberapa hal sebagai berikut.
a.       Untuk mengetahui apa yang dimaksud generasi muda?;
b.      Untuk mengetahui apa saja masalah yang ada pada generasi muda?;
c.       Untuk mengetahui bagaimana pernanan keluarga, lingkungan, sekolah, dan masyarakat terhadap generasi muda?;
d.      Untuk memahami peranan generasi muda terhadap kehidupan masa kini?;
e.       Untuk mengetahui bagaimana perspektif generasi muda terhadap kehidupan masa kini?;
Selain untuk mengetahui beberapa permasalahan di atas, penulisan makalah ini juga untuk mengetahui solusi apa saja yang dapat digunakan dalam mengatasi masalah-masalah sosial tersebut.


4.      MANFAAT PENULISAN MAKALAH
Dalam hal ini, manfaat penulisan makalah “Perspektif Generasi Muda Terhadap Kehidupan Masa Kini adalah agar penulis lebih memahami dan mengetahui tentang masalah-masalah yang ada pada generasi muda, dalam mewujudkan cita-cita normatif Negara Indonesia yang sesuai dengan cita-cita para “founding father” saat menggagas Dasar Falsafah Negara yaitu Pancasila.

























BAB II
PEMBAHASAN

1.      TINJAUAN PUSTAKA
A.    Pengertian Generasi Muda
Pemuda adalah suatu generasi yang dipundaknya terbebani berbagai macam harapan, terutama dari generasi yang lebih tua (generasi tua/old generation). Hal ini dapat dimengerti karena pemuda diharapkan sebagai generasi penerus, yaitu generasi yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya, generasi yang mengisi dan melanjutkan rangkaian estafet pembangunan. Anggapan itu merupakan beban moral yang ditanggung bagi pemuda untuk memenuhi tanggung jawab yang diberikan oleh generasi tua. Selain memikul beban tersebut, pemuda juga dihadapkan dengan persoalan-persoalan, diantaranya kenakalan remaja, ketidak patuhan pada orang tua/guru, kecanduan narkotika, frustasi, masa depan suram, keterbatasan lapangan kerja dan masalah lainnya. Seringkali perilaku pemuda berbenturan dengan “nilai atau norma” yang telah ada pada suatu masyarakat, jika pemuda berkelakuan di luar nilai tersebut. Artinya, pemuda tersebut berkelakuan menyimpang dari norma-norma yang sudah ditetapkan oleh kelompok atau masyarakat tertentu. Proses kehidupan yang dialami oleh para pemuda Indonesia, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat membawa pengaruh yang besar pula dalam membina sikap untuk dapat hidup di masyarakat. Proses demikian itu bisa disebut dengan istilah sosialisasi. Proses sosialisasi itu berlangsung sejak anak ada di dunia dan terus akan berproses hingga mencapai titik kulminasi.
Pada generasi muda sekarang, banyak anak-anak yang melanggar norma-norma yang sudah di tetapkan oleh masyarakat dimana ia tinggal. Hal itu di karenakan mereka mengikuti perkembangan zaman yang modernisasi dan kekinian. Sehingga, tidak menyadari bahwa yang dilakukan itu negative karena tidak memfilter (proses menyaring informasi) dari modernisasi tersebut. Generasi muda kebanyakan hanya langsung mengikuti perkembangan zaman saja tanpa memikirkan baik atau buruknya akibat yang akan ditimbulkan atau diterima ke depanya. Maka dari itu, pengawasan orang tua sangat di butuhkan dalam memberikan perhatian lebih pada anak-anaknya agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang negative. Karena seorang generasi muda memiliki rasa penasaran atau keingintahuan yang tinggi untuk mencoba hal-hal yang baru, atau sekedar mengikuti pergaulan, agar tidak di bilang ketinggalan zaman oleh teman-temannya.
Soerjono Soekanto dalam bukunya Sosiologi Suatu Pengantar (2010:326) mengatakan bahwa :
“masa remaja dkatakan sebagai suatu masa yang berbahaya karena pada periode itu, seseorang meninggalkan tahap kehidupan anak-anak, untuk menuju ke tahap selanjutnya, yaitu tahap kedewasaan. Masa ini dirasakan sebagai suatu krisis karena belum adanya pegangan, sedangkan kepribadiannya sedang mengalami pembentukan. Pada waktu itu dia memerlukan bimbingan, terutama dari orang tuanya. ”.
Dari kutipan tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa generasi muda adalah masa atau periode di mana seseorang meninggalkan tahap kehidupan anak-anak untuk menuju ke tahap selanjutnya, yaitu tahap kedewasaan. Secara tepat, belum ada yang dapat mendefinisikan “generasi muda” secara spesifik dan detail. Ada beberapa pandangan tentang definisi generasi muda tergantung dari sudut mana melihatnya, diantaranya sebagai berikut.
a.       Dilihat dari segi biologis, ada istilah bayi, anak, remaja, pemuda dan dewasa.
1.      Anak 1-12 tahun
2.      Remaja 12-15 tahun
3.      Pemuda 15-30 tahun
4.      Dewasa 30 ke atas
b.      Jika dilihat dari segi budaya atau fungsional dikenal istilah anak, remaja dan dewasa.
1.      Anak 0-12 tahun
2.      Remaja 13-18 tahun
3.      Dewasa 18-21 tahun
Generasi Muda adalah tiang Negara karena pemuda sangat dibutuhkan sebagai generasi penerus bangsa. Sehingga, dengan peran serta pemuda dalam peningkatan mutu bangsa, generasi muda sangat  berperan dalam menentukan maju atau mundurnya suatu Negara.
B.     Masalah pada Generasi Muda
Masalah generasi muda pada umumnya di tandai oleh dua cirri yang berlawanan, yakni keinginan untuk melawan (misalnya dalam bentuk radikalisme, delinkuensi dan sebagainya) dan sikap yang apatis (mialnya peyesuaian yang membabi buta terhdap ukuran moral generasi tua). Sikap melawan mungkin disertai dengan suatu rasa takut bahwa masyarkkat akan hancur karena perbuatan-perbuatan menyimpang. Sementara itu, sikap apatis biasanya di sertai dengan rasa kecewa terhadap masyarakat.
Generasi muda biasanya menghadapi masalah sosial dan biologis. Apabila seseorang mencapai usia remaja, secara fisik dia telah matang, tetapi untuk di katakana dewasa dalam arti sosial masih di perlukan factor-faktor lainya. Dia perlu belajar banyak mengenai nilai dan norma-norma masyarakatnya. Pada masyarakat bersahaja hal itu tidak menjadi masalah karena anak memperoleh pendidikan dalam lingkungan kelompok kekerabatan. Perbedaan kedewasaan sosial dengan kematangan biologis tidak terlalu mencolok; posisinya dalam masyarkat antara lain di tentukan oleh usia.
Lain halnnya dengan masyarakat yang sudah rumit, terdapat pembagian kerja dan pengotakan fungsional bidang-bidang kehidupan. Kecuali terhadap pekerjaan fisik, masyarakat tidaklah semata-mata menuntut adanya kemampuan-kemampuan fisik, tetapi juga kemampuan bagi Negara yang takluk sebagai si kalah. Apalagi peperangan pada dewasa ini biasanya merupakan perang total, yaitu dimana tidak hanya angkatan yanngbersenjata yang bersangkut, tetapi seluruh lapisan masyarakat.(Soerjono Sukanto,2010:325-326).
Masalah pemuda merupakan masalah yang abadi dan selalu dialami oleh setiap generasi dalam hubungannya dengan generasi yang lebih tua. Masalah-masalah pemuda ini disebakan karena sebagai akibat dari proses pendewasaan seseorang, penyusuan diri dengan situasi yang baru dan timbulah harapan setiap pemuda karena akan mempunyai masa depan yang baik daripada orang tuanya. Proses perubahan itu terjadi secara lambat dan teratur.
Sebagian besar pemuda mengalami pendidikan yang lebih tinggi daripada orang tuanya. Orang tua sebagai peer group (teman sebaya) yang memberikan bimbingan, pengarahan, karena merupakan norma-norma masyarakat, sehingga dapat dipergunakan dalam hidupnya. Banyak sekali masalah yang tidak terpecahkan, karena kejadian yang menimpa mereka belum pernah dialami dan diuangkapkannya. Dewasa ini umum dikemukakan bahwa secara biologis dan politis serta fisik seorang pemuda sudah dewasa akan tetapi secara ekonomis, psikologis masih kurang dewasa. Contohnya seperti pemuda-pemuda yang sudah menikah, mempunyai keluarga, menikmati hak politiknya sebagai warga Negara tapi dalam segi ekonominya masih tergantung kepada orang tuanya.
Masalah generasi muda yang tidak disadari dan selalu dilakukan hingga saat ini adalah demonstration effect. Demonstration effect memiliki pengaruh yang sangat kuat dan merupakan masalah yang terjadi secara sosiologis, artinya bukan hanya terjadi pada generasi muda saja. Soerjono Soekanto (2010:327) menjelaskan bahwa masalah tersebut antara lain dapat diurutkan sebagai berikut.
a.       Sense of value yang kurang ditanamkan oleh orang tua. Terutama yang menjadi warga lapisan tertinggi dalam masyarakat. Anak-anak dari orang-orang yang menduduki lapisan yang tinggi dalam masyarakat biasanya menjadi pusat sorotan dan sumber bagi imitasi untuk anak-anak yang berasal dari lapisan yang lebih rendah.
b.      Timbulny aorganisasi-organisasi pemuda (juga pemudi) informal, yang tingkah lakunya tidak disukai oleh masyarakat pada umumnya.
c.       Timbulnya usaha-usaha generasi muda yang bertujuan untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam masyarakat, yang disesuaikan dengan nilai-nilai kaum muda.
C.    PERANAN KELUARGA, SEKOLAH, MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN TERHADAP PERKEMBANGAN GENERASI MUDA
Keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan memiliki peranan penting terhadap perkembangan sosial generasi muda yang di lahirkakan. Manusia senantiasa hidup dalam suatu lingkungan, baik lingkungan fisik, psikis, atau spiritual, yang di dalamnya ada hubungan timbal balik sejak manusia di lahirkan. Dan di dalam hubungan timbal balik itulah tentu terjadi saling mempengaruhi antara manusia dan lingkungannya pada umumnya. Dalam menguraikan pengaruh keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan terhadap perkembangan sosial generasi muda. Hal ini menjadi sangat penting dan berpengaruh terhadap perkembangan sosial generasi muda karena merupakan faktor pembentuk dari karakter generasi muda tersebut.
a.      Peranan keluarga
Keluarga adalah unit atau satuan masyarakat yang terkecil sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Keluarga ini, dalam hubunganya dengan pendidikan sering dikenal dengan sebutan primary group. Keluarga inilah yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadian dalam masyarakat. Tidaklah dapat dipungkiri bahwa sebenarnya keluarga mempunyai fungsi yang tidak hanya terbatas selaku penerus keturunan saja. Banyak hal-hal mengenai kepribadian yang dapat ditelusuri dari keluarga, yang pada saat sekarang ini sering dilupakan masyarakat. Perkembangan intelektual akan kesadaran lingkungan seorang individu sering kali dilepaskan bahkan dipisahkan dengan masalah keluarga. Hal-hal semacam inilah yang sering menimbulkan masalah-masalah sosial, karena kehilangan norma dan nilai. Keluarga sudah sering kali terlihat kehilangan perananya. Oleh kareana itu, peranan keluarga harus dikembalikan dalam proporsi yang sebenarnya dengan skala prioritas yang pas. Biasanya keluarga terdiri dari suami, istri dan anak-anaknya. Anak-anak inilah yang nantinya berkembang dan mulai bisa melihat dan mengenal arti diri sendiri dan kemudian belajar melalui pengenalan itu. Individu-individu tersebut adalah keluarganya yang memelihara cara pandang dan cara menghadapi masalah-masalahnya, membinanya dengan cara menelusuri dan meramalkan hari esoknya, mempersiapkan pendidikan, ketrampilan, dan budi pekertinya.
Keluarga sebagai kelompok pertama yang dikenal individu sangat berpengaruh secara langsung terhadap perkembangan individu sebelum maupun sesudah terjun langsung secara individual di masyarakat.
1.      Keluarga hendaknya selalu menjaga dan memperhatikan cara pandang individu terhadap kebutuhan-kebutuhan pokoknya, baik itu yang bersifat organik maupun yang bersifat psikologis.
2.      Mempersiapkan segala sesuatu yang ada hubungannya langsung maupun tidak langsung dengan pendidikannya. Artinya, keluargalah yang mempunyai tanggung jawab moral pada usaha mengupayakan pendidikan dan menjadikan individu menjadi orang yang terdidik.
3.      Membina individu dengan cara mengemati garis kecenderungan individu.
4.      Keluarga adalah model dalam masyarakat yang menjadi acuan yang baik untuk ditiru yang juga menjadi kebanggaan masyarakat setempat.(Noor Arifin,1999:80-82)
Di Indonesia, sampai sekarang, keluarga masih dianggap sebagai institusi sosial yang memegang peran dominan dalam masyarakat. Meskipun demikian, tingkat kemajuan pendidikan dan pengaruh teknologi, terutama dikota-kota besar memunculkan gejala perubahan fungsi keluarga. Keluarga, pada hakikatnya merupakan suatu lembaga sosial yang timbul sebagai manifestasi kebudayaan. Pola-pola kebudayaan kita memanifestasikan bentuk keluarga yang sesuai dengan adat istiadat, nilai-nilai, cara berpikir, sikap dan kebiasaan yang ada dalam masyarakat kita sendiri. Oleh karena itu, tidaklah heran jika di berbagai daerah di Indonesia terdapat bermacam-macam karakteristik keluarga, dan dari berbagai karakteristik tersebut maka akan menyebabkan lahirnya generasi muda yang memiliki karakter khusus (karakteriktik kelurga atau budaya kelurga).
b.      Peranan sekolah
Sekolah yang berorientasi penuh kepada kehidupan masyarakat disebut community school atau “sekolah masyarakat”, sekolah ini berorientasi pada masalah-masalah kehidupan masyarakat seperti masalah usaha manusia melestarikan alam, memanfaatkan sumber-sumber  alam dan manusia, masalah kesehatan, kewarganegaraan, penggunaan waktu senggang, kominikasi, transport, dan sebagainya. Dalam kurikulum ini anak di didik agar turut ikut serta dalam kegiatan masyarakat. Pelajaran mengutamakan kerja-kelompok. Apa yang akan di kerjakan di dasarkan atas perencanaan bersama. Dengan sendirinya kurikulum itu fleksibel, berbeda dari sekolah ke sekolah, dari tahun ke tahun dan tidak dapat di tentukan secara menyeluruh. Jika dikaitkan dengan perkembangan generasi muda, sekolah adalah dasar dari pembentukan karakter para penerus bangsa dengan kata lain, sekolah merupakan tempat di mana para generasi muda akan mendapat ilmu dan pengetahuan sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat. Sekolah merupakan tempat yang menyiapkan generasi muda yang memiliki potensi disegala bidang, adar dapat bersaing dalam kehidupan di era modernisasi.
c.       Peranan masyarakat
Usaha penting yang dapat dilakukan sekolah ialah menghubungkannya dengan masyarakat dan menjadikan masyarakat itu sebagai sumber pelajaran. Bila ditelaah lingkungan sekolah dalam jarak 1 km akan kita temukan banyak hal yang dapat dikaitkan dengan pelajaran, bahkan dijadikan masalah pokok pelajaran seperti pemukiman. Dalam masyarakat terdapat orang yang berasal dari berbagai daerah atau negara, orang yang melakukan berbagai macam pekerjaan. Untuk memperluas hubungan antara sekolah dan masyarakat, gedung sekolah dapat digunakan oleh masyarakat misalnya untuk pendidikan orang dewasa, pemberantasan buta huruf, dan lain-lain. Selain sebagai sumber pendidikan, masyarakat juga memiliki peranan penting terhadap perkembangan generasi muda. Diakuinya  dan diikutsertakannya generasi muda dalam setiap kegiatan sosial masyarakat, akan menumbuhkan sikap peduli, saling menghormati, saling menghargai, gotong royong dan rasa tanggung jawab pada setiap generasi muda. Sikap perilaku positif tersebut perlu ditanamkan sejak dini dan secara terus menerus.
d.      Peranan lingkungan
Lingkungan sekitar tempat tinggal anak sangat mempengaruhi perkembangan pribadi anak. Di situlah anak memperoleh pengalaman bergaul dengan teman-teman di luar rumah dan sekolah. Tingkah laku anak harus disesuaikan dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan tersebut. Di lingkungan anak berkenalan dengan kelompok yang lebih besar dan dengan pola tingkah laku yang berbeda. Namun ada pula yang dipelajarinya di rumah yang digunakan dalam lingkungan ini, serta perlu ada perubahan dan penyesuaian. Dengan mengalami konflik disana-sini anak tersebut lama kelamaan mengenal kode kelakuan lingkungan dan turut memelihara dan mempertahankannya. Dengan demikian, sosialisasi anak di perluas. Dalam lingkungan anak dapat mempelajari hal-hal yang baik. Akan tetapi juga mempelajari kelakuan yang buruk bergantung pada sifat kelomponya. Anak-anak mudah mempelajari kata-kata kotor dan kasar dari teman-temanya yang sering mengjutkan hati seorang ibu bila diucapkan dirumah. Lingkungan anak-anak nakal akan menghasilkan anak-anak nakal pula. Kelakuan sosial anak serta norma-norma lingkungan tempat anak bermain dan bergaul tercermin pada kelakuan anak-anak tersebut. Dalam hal ini, orang tua dan para pendidik harus mengusahakan lingkungan yang sehat diluar rumah dan melibatkan kerjasama dan bantuan seluruh masyarakat.
D.    PERANAN GENERASI MUDA TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT
PEMUDA merupakan generasi penerus sebuah bangsa, kader bangsa, kader masyarakat dan kader keluarga. Pemuda selalu diidentikan dengan perubahan betapa tidak, peran pemuda dalam membangun bangsa ini, peran pemuda dalam menegakkan keadilan, peran pemuda yang menolak kekuasaan. Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemuda yang tak kenal waktu yang selalu berjuang dengan penuh semangat biarpun jiwa raga menjadi taruhannya. Indonesia merdeka berkat pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang seperti Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Bung Tomo dan lain-lain dengan penuh semangat perjuangan.
Satu tumpah darah, satu bangsa dan satu bahasa merupakan sumpah pemuda yang di ikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928. Begitu kompaknya pemuda Indonesia pada waktu itu, dan apakah semangat pemuda sekarang sudah mulai redup, seolah dalam kacamata negara dan masyarakat seolah-olah atau kesannya pemuda sekarang malu untuk mewarisi semangat nasionalisime. Hal tersebut di pengaruhi oleh Globalisasi yang penuh dengan tren. Bung Hatta & Syahrir seandainya mereka masih hidup pasti mereka menangis melihat semangat nasionalisme pemuda Indonesia sekarang yang selalu mementingkan kesenangan dan selalu mementikan diri sendiri.
Sekarang Pemuda lebih banyak melakukan peranan sebagai kelompok politik dan sedikit sekali yang melakukan peranan sebagai kelompok sosial, sehingga kemandirian pemuda sangat sulit berkembang dalam mengisi pembangunan ini. Peranan pemuda dalam sosialisasi bermasyrakat sungguh menurun dratis, dulu biasanya setiap ada kegiatan masyarakat seperti kerja bakti, acara-acara keagamaan, adat istiadat biasanya yang berperan aktif dalam menyukseskan acara tersebut adalah pemuda sekitar. Pemuda sekarang lebih suka dengan kesenangan, selalu bermain-main dan bahkan ketua RT/RW nya saja dia tidak tahu. Kini pemuda pemudi kita lebih suka peranan di dunia maya ketimbang dunia nyata. Lebih suka nge Facebook, lebih suka aktif di mailing list, lebih suka di forum ketimbang duduk mufakat untuk kemajuan RT, RW, Kecamatan, Provinsi bahkan di tingkat lebih tinggi adalah Negara.
Selaku Pemuda kita dituntut aktif dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, sosialisasi dengan warga sekitar. Kehadiran pemuda sangat dinantikan untuk menyokong perubahan dan pembaharuan bagi masyarakat dan negara. Aksi reformasi disemua bidang adalah agenda pemuda kearah masyarakat madani. Reformasi tidak mungkin dilakukan oleh orang tua dan anak-anak. Jadi intinya peran pemuda sekarang ini sungguh sangat memprihatinkan, banyak pemuda sekarang yang jarang bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat sekitar padahal dari pemuda lah timbul semangat-semangat yang dapat membuat sebuah bangsa menjadi besar. Berkurangnya rasa sosialisasi di masyakat juga tidak lepas dari kecanggihan teknologi sekarang yang semuanya serba instant, mudah dan cepat tanpa harus bersusah payah. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataannya masih ada pemuda-pemuda yang mengikuti kegiatan-kegiatan masyarakat seperti menjadi panitia-panitia dalam keagamaan, sosial, perayaan dan semacamnya.
E.     PERSPEKTIF GENERASI MUDA TERHADAP KEHIDUPAN MASA KINI (MODERNISASI)
Norma sosial adalah kebiasaan umum yang menjadi patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat dan batasan wilayah tertentu. Norma akan berkembang seiring dengan kesepakatan-kesepakatan sosial masyarakatnya, sering juga disebut dengan peraturan sosial. Norma menyangkut perilaku-perilaku yang pantas dilakukan dalam menjalani interaksi sosialnya. Keberadaan norma dalam masyarakat bersifat memaksa individu atau suatu kelompok agar bertindak sesuai dengan aturan sosial yang telah terbentuk. Pada dasarnya, norma disusun agar hubungan di antara manusia dalam masyarakat dapat berlangsung tertib sebagaimana yang diharapkan.
Norma tidak boleh dilanggar. Siapa pun yang melanggar norma atau tidak bertingkah laku sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam norma itu, akan memperoleh hukuman. Misalnya, bagi siswa yang terlambat dihukum tidak boleh masuk kelas, bagi siswa yang mencontek pada saat ulangan tidak boleh meneruskan ulangan. Norma merupakan hasil buatan manusia sebagai makhluk sosial. Pada awalnya, aturan ini dibentuk secara tidak sengaja. Lama-kelamaan norma-norma itu disusun atau dibentuk secara sadar. Norma dalam masyarakat berisis tata tertib, aturan, dan petunjuk standar perilaku yang pantas atau wajar.
Istilah modern menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu sikap dan cara berpikir serta bertindak sesuai dengan tuntunan zaman. Yang kemudian jika dikaitkan dengan norma-norma sosial akan menimbulkan disosiatif atau pertentangan. Hal ini terjadi karena, modernisasi atau gaya hidup kekinian akan mambawa unsur-unsur dari luar yang secara sosiologis akan ditentang oleh kaum muda yang tertib hukum.
2.      ANALISIS
Generasi Muda adalah terjemahan dari “young generation” lawan dari “old age”. Youth mengandung arti populasi remaja/anak muda/pemuda yang sedang membentuk dirinya. Melihat kata "generasi muda" yang terdiri dari dua kata yang majemuk, kata yang kedua adalah sifat atau keadaan kelompok individu itu masih berusia muda dalam kelompok usia muda yang diwarisi cita-cita dan dibebani hak dan kewajiban, sejak dini telah diwarnai oleh kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan kegiatan politik. Maka dalam keadaan seperti ini generasi muda dari suatu bangsa merupakan "Young Citizen".
Pengertian generasi muda erat hubungannya dengan arti generasi muda sebagai generasi penerus. Yang dimaksud "generasi muda" secara pasti, tidak terdapat satu definisi yang dianggap paling tepat. Akan tetapi banyak pandangan yang mengartikannya tergantung dari sudut mana masyarakat melihatnya. Namun dalam rangka untuk pelaksanaan suatu program pembinaan, bahwa "generasi muda" ialah bagian suatu generasi yang berusia 0 – 30 tahun.
Masalah pemuda merupakan masalah yang abadi dan selalu dialami oleh setiap generasi dalam hubungannya dengan generasi yang lebih tua. Masalah-masalah pemuda ini disebakan karena sebagai akibat dari proses pendewasaan seseorang, penyusuan diri dengan situasi yang baru dan timbulah harapan setiap pemuda karena akan mempunyai masa depan yang baik daripada orang tuanya. Proses perubahan itu terjadi secara lambat dan teratur.
Sebagian besar pemuda mengalami pendidikan yang lebih tinggi daripada orang tuanya. Orang tua sebagai peer group (teman sebaya) yang memberikan bimbingan, pengarahan, karena merupakan norma-norma masyarakat, sehingga dapat dipergunakan dalam hidupnya. Banyak sekali masalah yang tidak terpecahkan, karena kejadian yang menimpa mereka belum pernah dialami dan diuangkapkannya. Dewasa ini umum dikemukakan bahwa secara biologis dan politis serta fisik seorang pemuda sudah dewasa akan tetapi secara ekonomis, psikologis masih kurang dewasa. Contohnya seperti pemuda-pemuda yang sudah menikah, mempunyai keluarga, menikmati hak politiknya sebagai warga Negara tapi dalam segi ekonominya masih tergantung kepada orang tuanya.
Peranan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan serta latar belakang budaya merupakan faktor kunci dalam pembentukan karakter generasi muda. Hal ini dikarenakan generasi muda hidup dalam lingkungan keluarga, dididik melalui sekolah, bersosialisasi dengan masyarakat setempat yang menyatu dengan lingkungan tempat tinggal. Sedangkan latar belakang budaya atau kultur adalah salah satu faktor dalam mendukung dan menanamkan kearifan budaya lokal pada generasi muda itu sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sangat membutuhkan sekali peran pemuda untuk kemajuan kedepannya. Apa arti pemuda? pemuda adalah sosok individu yang masih berproduktif yang mempunyai jiwa optimis, berfikir maju, dan berintelegtual. Dan hal yang paling menonjol dari pemuda ialah dengan cara melakukan perubahan menjadi lebih baik dan menjadi lebih maju. Dengan semangat 45 pemuda bisa merubah segalanya menjadi lebih baik. perubahan hampir selalu di majukan oleh para golongan muda. pemuda merupakan pilar bagi kebangkitan umat. banyak kewajiban pemuda yaitu tanggung jawab. kebaikan akan membuat mereka jaya diduniannya contoh dari peran pemuda dalam masyarakat ialah pemuda dalam mencegah HIV, kepemimpinan
Pengamatan tentang perspektif generasi muda terhadap kehidupan masa kini, yaitu pemuda masa kini tidak lagi mempersoalkan ideologi dalam tataran makna, tetapi pada tataran perbuatan, sebagai konsekwensinya pemuda kini tidak lagi mempersoalkan masalah globalisasi dalam tataran kebangsaan, melainkan berkonsentrasi untuk mengejar prestasi dalam bidang ekonomi, dan perebutan prestise diberbagai tataran baik sosial, ekonomi atau politik. Yang lebih ironisnya ukuran yang dianggap sangat sukses adalah ketika mampu memanfaatkan jabatan yang diemban tersebut untuk memperkaya diri, hidup bermwah-mewahan yang didapat dari hasil mencuri uang Negara atau mengeksploitasi sumber daya alam dalam Negara dan lain-lain.


























BAB III
PENUTUP

1.      KESIMPULAN
Dari pembahasan dan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa perspektif diatas adalah bentuk kemunduran dan keterbelakangan mental serta moral generasi muda pada era reformasi, fenomena cacat mental dan moral sangat merata dan belum pernah terjadi dalam sejarah panjang bangsa Indonesia di era sebelumnya. Fenomena di era reformasi saat ini adalah pemuda dijadikan sebagai komoditi, akibatnya pemuda sebagai manusia telah dimusnahkan secara sistematis.
Peran pemuda sebagai lokomotif perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik direduksi oleh lingkungan sosial yang terbentuk akibat sistem Negara yang menjadi komoditi politik yang diperdagangkan, bahkan yang lebih ironis menjadi pucuk pimpinan pada sebuah orgnisasi kepemudaan menjadi sebuah komoditi yang diperdagangkan. Namun bukan berarti kaum muda Indonesia tidak boleh atau tidak berkompeten untuk terlibat dalam politik praktis.
Pemuda sebagai agen perubahan dan kontrol sosial yang menjelma menjadi sebuah amunisi dari maju mundurnya sebuah bangsa yang senantiasa siap untuk selalu mengambil peran dan menuntut sumbangsihnya untuk kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Solusi yang mungkin dapat dilakukan dalam menghadapi masalah pada generasi muda dalam kehidupan masa kini adalah menanamkan kembali secara perlahan, bertahap dan teurs menerus tentang Ideologi Pancasila sebagai dasar Negara yang memiliki cita-cita luhur. Mengapa harus Pancasila? Pertanyaan ini sering muncul dalam kehidupan era sekarang. Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu harus mengetahui dan memahami seutuhnya apa itu Pacasila.
Pacasila sebagai dasar Negara memiliki cita-cita normatif. Nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila adalah statis sedangkan sifatnya adalah dinamis. Jadi pada intinya, Pancasila merupakan salah satu dasar Negara/Ideologi/Pandangan Hidup/ yang mampu menyesuaikan perubahan zaman dengan tidak serta merta merubah nilai-nilai yang dikandungnya. Hal ini perlu diketahui dan dipahami oleh para generasi muda dalam menghadapi kehidupan masa kini agar tidak mudah terbawa arus budaya dan pengaruh dari luar.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menanamkan Pancasila dalam diri para generasi muda mungkin bisa dengan mengembalikan fungsi P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Jika memang P4 masih dianggap terlalu tabu pada era sekarang ini mengingat P4 adalah senjata (alat) pada zaman orde baru, maka P4 bisa dirubah dengan nama lain, asalkan intinya tetap sama yaitu pengamalan, pengahayatan Pancasila. Melalui bimbingan dan penyuluhan yang baik dan benar, tanpa memasukan unsur politik, tanpa adanya kepentingan-kepentingan dari para pejabat Negara, P4 akan dapat berfungsi dengan baik dalam menumbuhkan rasa nasionalis pada para generasi muda penerus bangsa. Sehingga generasu muda Indonesia akan memiliki karakter, yaitu karakter sebagai orang Indonesia tanpa meninggalkan kearifan budaya bangsa dalam mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju.
2.      SARAN
Sosialisaikan dengan memulai dari hal yang terkecil dalam keluarga, sebelum seorang anak terjun langsung dalam dunia luar. Norma yang ditanamkan dalam keluarga akan senantiasa menjadi bentang bagi seorang anak dalam menghadapi pengaruh dari luar.
 





DAFTAR PUSTAKA

Soekanto, Soerjono. 2010. Sosiologi suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers
Alan, B. 2013. Definisi, Peranan, Pembinaan serta Masalah pada Generasi Muda. [Online]. Tersedia: https://zzzfadhlan.wordpress.com/2013/10/16/tugas-2-ilmu-sosial-dasar-definisi-peranan-pembinaan-serta-masalah-pada-generasi-muda/. [2015, Oktober 05]
Zincin, Monica. 20131. Masalah Generasi Muda Terhadap Norma-Norma. [Online]. Tersedia: http://monicazinnn.blogspot.co.id/2013/05/masalah-generasi-muda-terhadap-norma.html. [2015, Oktober 06].
 Arifin, Noor. (1999). Aplikasi Konsep Quality of Work Life (QWL) dalam Upaya Menumbuhkan Motivasi Karyawan Berkinerja Unggul. Jakarta. Majalah Usahawan No. 10 Thn. XXVIII Oktober.
Saptono, Bambang Suteng Sulasmono. 2007. Sosiologi SMA/MA untuk Kelas XII (Jilid 3). Jakarta: Erlangga
Marhaen, Eddy. 2011. Peran Pemuda dalam Menghadapi Globalisasi. [Online]. Tersedia: https://edimarhaen.wordpress.com/2011/11/14/peran-pemuda-dalam-menghadapi-globalisasi/. [2015, Oktober 06]
Safarina, Fauziah. 2015. Pengaruh Budaya Lokal Terhadap Generasi Muda. [Online]. Tersedia: http://fzhsafarina.blogspot.co.id/2013/05/pengaruh-budaya-lokal-terhadap-perilaku.html. [2015, Oktober 04].
Irmawan, Ady. 2011. Makalah Sosiologi Tentang Pemuda Dan Sosialisasinya Dalam Permasalahan Generasi Nasional. [Online]. Tersedia: http://ady-irmawan.blogspot.co.id/2011/11/makalah-sosiologi-tentang-pemuda-dan.html. [2015, Oktober 05].